Sekali Melangkah Pantang Menyerah, Sekali Tampil Harus Berhasil, Jiwa Ragaku Demi Kemanusiaan

Selasa, 28 Oktober 2014

Kapolda : Brimob Resmi Gunakan Doreng






Balikpapan – Satuan Brimob Polda Kaltim siap merilis seragam doreng khas korps baret biru itu pada HUT ke 69, 14 November mendatang. Seragam tersebut akan melengkapi seragam yang sudah ada saat ini. Yakni seragam hitam, seragam kepolisian dan seragam kehijauan.

“Jadi nanti Brimob punya empat seragam tugas. Selain yang sudah ada saat ini, ada seragam doreng yang akan dirilis pada saat HUT,” 

ungkap Kapolda Kaltim Irjen Pol Andayono didampingi Kasat Brimob Kombes Pol Subnedih, didepan ratusan personil Brimob.

Seragam doreng, menurut Kapolda, sudah dimiliki Brimob sejak lama. Namun, sempat ditiadakan, kini baru diadakan lagi secara resmi. Di lingkungan Brimob Polda Kaltim sendiri, seragam doreng baru dimiliki sebagian anggota dan telah digunakan saat kunjungan Kapolda Kaltim ke Mako Brimob beberapa waktu lalu.

“Sesuai kebutuhan, sebagaimana peran Brimob di kepolisian sebagai satuan pasukan terdepan dalam pengamanan negara. Seperti di daerah konflik dan operasi lainnya,” ujar Kapolda.

Sampai saat ini, pengadaan seragam doreng di lingkungan Brimob Polda Kaltim masih bertahap. Namun, dipastikan saat puncak peringatan HUT Brimob nanti, seluruh pasukan Brimob Polda Kaltim akan menggunakan seragam doreng.

Senin, 20 Oktober 2014

Brimob Kaltim Sukses Amankan Pelaksanaan Pelantikan Presiden 2014








Samarinda (24/10/2014) - Dalam memperingati Awal Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram 1436 H, Seluruh keluarga besar Detasemen B Pelopor Sat Brimob Polda Kaltim melaksanakan kegiatan Tausyiah yang bertujuan selain untuk kegiatan rohani dalam peringatan tahun baru Islam juga untuk menjalin tali silaturahmi antar umat beragama mengingat Negara Indonesia adalah Negara yang Multi dinamis


Acara tersebut dihadiri selain dari Keluarga Besar Brimob Detasemen B juga masyarakat yang ikut andil dalam pelaksanaan kegiatan tersebut .






Minggu, 12 Oktober 2014

Kegiatan Pelaksanaan Sholat Idhul Adha 1435 H




Kegiatan pelaksanaan Sholat Idhul Adha 1435 H

                                          
       Sebagai wujud rasa syukur dan untuk meningkatkan Iman dan Taqwa sebagai umat muslim salah satunya menjalankan ibadah seperti yang dilakukan Nabi dan Rosulnya Detasemen B Pelopor menjalankan Sholat Idhul Adha yang dilanjutkan kegiatan penyembelihan qurban .
          Pada pelaksanaanya sendiri kegiatan Shalat Idul Adha berjamaah dilaksanakan di Lapangan Apel Detasemen B Pelopor pukul 07.00 WITA yang diikuti oleh Seluruh Anggota Detasemen B Pelopor yang beragama muslim dan Keluarga serta Warga Masyarakat disekitar Mako Detasemen B Pelopor, bertindak selaku Khotib Bapak Ustad Drs. Ismail dan Bilal oleh sdr. Iqbal dengan tema ceramah Hikmah ceramah qurban sebagai contoh melatih kesabaran dan keikhlasan. 

Seusai kegiatan Shalat Ied pukul 07.30 WITA dilanjutkan dengan kegiatan persiapan penyembelihan qurban dilaksanakan pukul 08.00 WITA.
Adapun hewan yang disembelih merupakan sumbangan dari personil Detasemen B Pelopor dan dari warga masyarakat dengan rincian sebagai berikut :

1)    . Satu ekor sapi dari anggota Brimob Den B  Pelopor samarinda;
2)    . Dua ekor sapi dari bapak Abu;
3)    . Satu ekor sapi dari PT. CAP;
4)    . Satu ekor sapi dari bapak Adi Parliansah;
5)    . Dua ekor kambing dari PT. MNP;
6)    . Satu ekor kambing dari PT. KPUC;
7)    . Satu ekor kambing dari Bapak Hendra Ade
 Putra Wijaya.

Pukul 12.00 WITA penyembelihan hewan qurban oleh Personil Detasemen B Pelopor selesai dan hasil hewan qurban tersebut disalurkan kepada Personil Detasemen B Pelopor dan Keluarga sebanyak 386, kemudian 200 disalurkan kepada warga masyarakat sekitar Mako Den B Pelopor.
Dan pelaksanaan syukuran oleh seluruh oleh seluruh Personil Detasemen B Pelopor dan kegiatan tersebut dilaksanakan dirumah Dinas Wakasubden 4 Pelopor Ipda Elan Suherlan.

Rabu, 08 Oktober 2014

Penggunaan Loreng di Lingkungan Korps Brimob Polri



Dimensi tugas Korps Brimob Polri yang sedemikian membutuhkan sosok anggota Brimob yang memiliki semangat pengabdian yang membara untuk menjamin kepastian hukum ditegakkan dengan posisinya sebagian satuan terbaik di Indonesia dalam melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat membutuhkan suatu pengikat yang mampu memberikan pemahaman dan sekaligus panduan bahwa Korps Brimob Polri yang senantiasa harus memiliki solidaritas tinggi dalam melaksanakan perannya dalam masa aman maupun dalam masa rawan. Salah satu pengikat yang mampu mempersatukan seluruh personil Korps Brimob Polri adalah adanya kebersamaan dalam ikatan kesatuan yang solid, dibentuk dengan adanya keterpaduan kelompok interen Korps Brimob Polri dalam membentuk identitas ke-Brimob-an.
Sesuai dengan surat Keputusan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia nomor: Kep/748/IX/2014 tentang Penggunaan Pakaian Dinas Lapangan (PDL) Loreng bagi personel Korps Brimob Polri, maka pakaian loreng telah sah digunakan oleh personel Brimob.


Pakaian Dinas Lapangan bermotif Loreng dapat digunakan sebagai seragam dinas Kepolisian di lingkungan Korps Brimob Polri karena berdasarkan pertimbangan  historis merupakan bagian dari sejarah perjuangan Korps Brimob Polri yang perlu dipertahankan adanya kebutuhan penugasan khususnya medan operasi yang sangat spesifik menghadapi gangguan kamtibmas berkadar tinggi serta adanya kepatutan penggunaan seragam bermotif loreng sebagaimana yang digunakan oleh beberapa lembaga penegak hokum dan kepolisian secara Internasional.

Selasa, 02 September 2014

Pengukuhan dan Sertijab para Kaden dan Kasi Jajaran Satbrimob Polda Kaltim




Balikpapan – Sejalan dengan dinamika Remormasi dan Perkembangan globalisasi dewasa ini telah terjadi perubahan besar terhadap sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang dipengaruhi oleh kemajuan ilmu pengetahuan, tekhnologi, informasi dan aspek lainnya. Kebijakan umum pendayagunaan Satuan Brimob Polda Kaltim mengarah pada terwujudnya birokrasi yang sistematik dan proporsional dengan didukung tersedianya pegawai/personil yang memiliki kinerja yang tinggi dan mampu melaksanakan penyelenggaraan tugas operasional.
Program Restrukturisasi organisasi Brimob Polri, bagian yang tidak dapat dipisahkan dan merupakan satu sistem yang terintegrasi yaitu menata kembali postur kelembagaan Polri yang mencakup kelembagaan Polri yang mencakup tentang Struktur kemampuan, Struktur Kekuatan, Struktur peralatan dan Struktur Penggelaran Opeasi Kepolisian yang terpadu.Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa rotasi jabatan merupakan proses regenerasi dan promosi bagi personil Polri. Rotasi jabatan harus dimaknai secara komprehensif dan merupakan realisasi dari komitmen Polri dalam rangka penyegaran suasana kerja, dinamisasi dan meningkatkan motivasi kerja bagi para pejabat maupun bagi lingkungan kesatuan tempat yang bersangkutan ditugaskan.
Satuan Brimob Polda Kaltim kembali melaksanakan acara pengukuhan dan Serah Terima Jabatan Kaden dan Kasi jajaran Satuan Brimob hari pagi tadi (26/08), di Aula Mako Satuan Brimob. Sertijab dan pengukuhan ini dipimpin langsung oleh Kasat Brimob Polda Kaltim Kombes Pol. Drs. Subnedih, SH, adapun pejabat yang melaksanakan sertijab dan pengukuhan adalah Kaden C Pelopor Kompol Agus Suharsoyo, SIK dikukuhkan sebagai Kaden B Pelopor menggantikan Kompol Dearystone MHR Supit, SIK yang melaksanakan dik Sespim.
Sedangkan Kaden C Pelopor dijabat oleh Kompol Dieno Hendro Widodo, SIK yang sebelumnya menjabat sebagai Kasi Sarpras Satbrimob yang digantikan oleh AKP Subakri dengan jabatan lamanya sebagai Pasi Ops Den A Pelopor. Selanjutnya Kompol Esty Setyo Nugroho, SIK yang sebelumnya menjabat Kasi Intel Satbrimob menjabat sebagai Kasi Ops Satbrimob yang ditinggalkan oleh Kompol Mujianto, SIK untuk mengisi jabatan sebagai Kaden Gegana menggantikan Kompol Bambang Wiji Asmoro yang mengikuti Dik Sespim.
Dalam amanatnya, Kasat Brimob Polda Kaltim beserta jajaran dan keluarga mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada pejabat yang dikukuhkan atas segala dedikasi, integritas, kepedulian dan komitmen untuk meningkatkan kualitas kinerja dan kreatifitas untuk pengembangan Sumber Daya Satuan Brimob Polda Kaltim.
Disisi lain secara teknis organisasi melalui  penyerahan jabatan ini diharapkan akan mempermudah dalam pembinaan personil dan lebih meningkatkan operasional dalam melaksanakan tugas – tugas sebagai pelindung, pengayom, pelayan dan meningkatkan kemitraan dengan masyarakat serta aparat penegak hukum lainnya guna menghadapi kejahatan berintensitas tinggi dan berdimensi kontijensi.
Usai upacara tersebut dilanjutkan dengan pemberian ucapan selamat oleh Kasat Brimob kepada para Pejabat yang dikukuhkan diikuti para perwira dan seluruh peserta upacara.




PERISTIWA PENARIK,MUKO-MUKO,PERTENGAHAN TAHUN 1960

PERISTIWA PENARIK,MUKO-MUKO,PERTENGAHAN TAHUN 1960



Hasil wawancara dengan mantan anggota Kompi A Brimob Rangers. Mei 2008Peristiwa pertempuran antara dua peleton pasukan dari Kompi A Brimob Rangers pimpinan Aiptu Ketut Wahadi dengan satu batalyon pemberontak PRRI/Permesta. Seperti kita ketahui, tahun 1958 muncul pemberontakan PRRI/Permesta dengan pusat di Pekanbaru dan Padang yang dimotori oleh beberapa perwira menengah Angkatan Darat di Sumatera. Inti dari pemberontakan ini adalah ketidakpuasan dengan kebijakan pemerintah pusat di Jakarta.

          Pemberontakan dalam skala besar sudah berhasil ditumpas dengan operasi Tegas dan Operasi 17 Agustus. Pada akhir tahun 1958, semua kota besar di Sumatera, baik Pekanbaru dan Padang sudah kembali ke pangkuan RI, selain itu banyak dari pasukan pemberontak yang menyerah. Namun demikian, sampai dengan tahun 1961 banyak sisa pasukan pemberontak PRRI. Salah satunya batalyon yang dipimpin Letkol Nawawi yang bergerilya di hutan pedalaman Sumatera. Batalyon ini dipersenjatai dengan senjatasenjata bantuan dari Amerika Serikat pada awal 1958. Para prajurit Infanteri Sumatera ini semuanya memegang senjata M1 Garrand, M1 Karabin (Jungle Lipat), senjata otomotatis Thompson, senjata berat mortir 60 mm dan 80 mm.

2 peleton Kompi A Brimob Rangers didaratkan di kawasan pantai Ipoh pada

bulan Mei 1960 dengan kapal pendarat milik Polairud dengan kode lambung 801. Seperti standar pendaratan operasi ampibi, pendaratan diawali dengan tembakan senapan mesin 12,7 dari kapal pendarat untuk memastikan tidak ada pemberontak yang menguasai pantai. Setelah penembakan dilakukan, baru satu kompi pasukan Brimob Rangers mendarat dengan aman. Kompi A Brimob Rangers ini dikirim ke Sumatera untuk memback up Brimob Bengkulu yang beberapa minggu sebelumnya di bantai oleh 1 batalyon Nawawi. Satu batalyon Brimob Bengkulu ini mengalami jumlah korban yang sangat besar karena serangan mendadak (raid) dari pemberontak PRRI. Markas Brimob Bengkulu ini sudah mengibarkan bendera putih tanda menyerah dan di dalam markas hanya tinggal tersisa beberapa anggota yang selamat dari serangan dadakan tersebut.
Pasca pendaratan 2 kompi Brimob Rangers melakukan konsolidasi di pantai dan langsung mengejar gerombolan pemberontak yang berlokasi di kecamatan Ipoh. Mereka kemudian bergabung dengan satu batalyon TNI AD dari Pekanbaru dibawah komando Letkol Dani Effendi. Oleh Danyon Letkol Dani Effendi, Brimob Rangers difungsikan sebagai peleton pengintai dengan jarak 5 kilometer di depan Batalyon Infanteri.
Masuk perbatasan Sumatera Selatan, peleton 1 bertemu dengan kompi terakhir Batalyon Ahmad Lubis, dan terjadi kontak senjata pertama. Anehnya, posisi peleton 1 justru mengejar satu kompi pemberontak. Pada saat hari menjelang malam, ada teriakan dari pasukan pemberontak “Istirahat makan….!!!”. Sangat aneh, pada saat kontak senjata seru, musuh menyerukan untuk istirahat dulu. Permintaan ini dituruti oleh Danton 1 Brimob Rangers karena kedua pasukan dihalangi sungai sehingga kesulitan untuk menyeberang, selain itu pasukan butuh istirahat setelah hampir beberapa hari bergerak sambil terus melakukan kontak senjata.
Pada akhirnya, peleton 1 sampai di daerah Penarik, Muko-Muko (saat ini menjadi daerah transmigran). Pada jam 17.00, Agen Polisi Ristoyo mendengar kokok ayam jantan ditengah hutan. Hal ini aneh karena biasanya yang terdengar adalah ayam hutan. Setelah melapor pada danton, dua prajurit Rangers dari peleton 1 merayap menuju arah suara tersebut, ternyata Kompi staf batalyon dan beberapa kompi lain dari pemberontak sedang beristirahat. Musuh yang beristirahat diperkirakan berjumlah 300 orang, mereka sedang menunggu giliran menyeberang sungai.
Peleton 1 segera mengambil posisi menyerang. Pada saat itu (tahun 1960) Brimob Rangers menggunakan senjata M1 karabin (jungle riffle), sub-machine gun Carl Gustav dan bren MK3. Persenjataan dan posisi pasukan dipersiapkan oleh Danton sebaik mungkin. Kemudian, danton memberikan komando,tembak….!!!maka desing peluru dari senapan anggota peleton 1 berhamburan. Pada tembakan magasin pertama, mereka masih membidik dengan baik sesuai dengan teori. Namun pada magasin kedua dan selanjutnya penembakan reaksi lebih banyak dilakukan, karena pertempuran terjadi pada jarak dekat, selain itu hari sudah malam sehingga posisi musuh hanya bisa diketahui dari bunyi tembakan balasan mereka.

Pada awal posisi pertempuran, jarak antara pasukan musuh dengan peleton 1 Brimob Rangers sekitar 300 meter, namun yang terjadi kemudian adalah pertempuran jarak dekat. Jarak antara pasukan Brimob Rangers dan musuh hanya sekitar 5-6 meter. Pertempuran yang terjadi tanpa ada garis pertahanan. Balasan dari musuh dengan berbagai senjata ringan sangat hebat, namun tampaknya mental bertempur mereka sudah jatuh karena banyak perwira yang tewas. Akhirnya setelah 1,5 jam, pertempuran usai dan musuh mundur. Peleton 1 tidak mengejar karena anggota pasukan kelelahan.

Setelah mengatur giliran jaga, anggota peleton 1 tidur di lokasi yang sebelumnya menjadi medan pertempuran.
Pagi harinya, anggota peleton 1 menghitung jumlah korban dan senjata yang ditinggalkan. Ada sekitar 60 mayat pasukan musuh dan ada sekitar 10 perwira yang tewas. Senjata yang ditinggalkan adalah puluhan M1 Garrand (pada awal 60-an senjata ini dianggap sangat canggih), mortir dan bazooka. Para anggota peleton 1 Brimob Rangers lega, karena musuh tidak sempat menggunakan senjata-senjata tersebut. Jika senjata itu digunakan ceritanya bisa lain. Agen Polisi Kartimin, terkaget-kaget karena tempat yang ditidurinya semalam dekat dengan mayat pemberontak. Dalam pertempuran ini tidak ada satu pun prajurit Brimob Rangers yang menjadi korban.
MENYUSUP KE BELAKANG GARIS PERTAHANAN MUSUH DALAM OPERASI MANDALA/TRIKORA DARI PEMBURU MENJADI YANG DIBURU
Operasi Mandala yang dipimpin oleh Mayjend Soeharto adalah sebuah operasi militer sebagai jalan terakhir menyelesaikan masalah Irian yang ditunda oleh Belanda dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949. Dalam operasi gabungan ini, semua unsur dari Angkatan Bersenjata dikerahkan. Angkatan Darat yang dimotori oleh RPKAD, Banteng Raiders dan beberapa unsur Divisi Siliwangi beserta Pasukan Gerak Tjepat (sekarang Pasukan Khas) TNI AU disusupkan dengan penerjunan ke beberapa wilayah di Irian Jaya. Pasukan Marinir disiapkan di Ambon untuk melakukan pendaratan ampibi, jika pertempuran frontal terjadi.
Pasukan Brimob dari beberapa Polda dan Resimen Pelopor menjadi bagian dari RTP 1 (Resimen Tempur) 1 yang akan disusupkan ke daerah Fak-Fak, Papua. Anggota Resimen Pelopor yang menjadi inti dari RTP 1 terdiri dari 60 orang, yang sebagian besar berasal darii Kompi A. Mereka sudah menggunakan senjata AR 15 yang dibagikan pada tahun 1961, pada saat operasi Gerakan Operasi Militer (GOM) IV di Aceh tahun 1961.
Pasukan berangkat dari Tanjung Priok Jakarta pada bulan Februari 1962. Mereka berangkat menuju Ambon yang menjadi salah satu pusat komando operasi Mandala.
Setelah sampai di Ambon, pasukan dibagi lagi menjadi detasemen-detasemen kecil. Pasukan Brimob dari beberapa Polda dipecah untuk disusupkan ke beberapa wilayah dan sebagian menjadi petugas radio dan transportasi. Petugas transportasi yang dimaksud adalah menjadi pengendali perahu motot kecil yang digunakan untuk menyusup ke wilayah lawan. Pasukan dari Resimen Pelopor tidak dipecah karena mereka memiliki misi khusus yaitu melakukan serangan demolisi (penghancuran) instalansi milik Belanda.
Sesampai di Ambon, 60 orang anggota Menpor dipindahkan ke kapal nelayan untuk berangkat ke Pulau Gorom di kawasan Kepulauan Kei. Maluku. Pulau Gorom adalah pulau tidak berpenghuni yang hanya berisi pohon pala. Mereka menunggu di pulau itu menunggu perintah infiltrasi. Pada bulan April 1962, perintah untuk mendarat di Fak-Fak datang, dan segera dipersiapkan perahu kecil untuk melakukan pendaratan. Misi pendaratan ini bukan pendaratan ampibi, melainkan infiltrasi sehingga perahu pun disamarkan dengan perahu nelayan.
Jarak antara Pulau Gorom dengan daratan Fak-Fak hanya 4 jam pelayaran, sehingga tidak dibutuhkan waktu lama untuk sampai di daratan Fak-Fak. 60 pasukan Menpor mendarat di Fak-Fak pada pukul 03.00 pagi. Pasukan ini mendapatkan “sambutan hangat” dari Angkatan Laut Kerajaan Belanda, berupa tembakan meriam dari arah lautan. Rupanya penyusupan tersebut diketahui oleh AL Belanda. Tembakan kanon dari kapal AL Belanda mengenai garis pantai sehingga pasukan kocar-kacir.
Mereka juga tidak mampu membalas karena hanya membawa senjata ringan AR 15 dan granat tangan. Pertempuran yang tidak seimbang itu hanya berlangsung beberapa menit, namun segera diketahui akibatnya. 20 anggota Menpor salah arah dan langsung menuju markas musuh, mereka akhirnya ditawan. 40 sisanya terpencar tidak karuan.
Pasukan Menpor yang terpecah itu kemudian kehilangan kontak karena semua peralatan komunikasi rusak akibat pemboman. Masing-masing kelompok terpecah menjadi 4 sampai 8 orang dan berasal dari regu yang berbeda-beda. Mereka kehilangan kontak dengan pasukan induk, tidak mempunyai dukungan logistic dan berada di daerah lawan. Hampir semua anggota Menpor yang berada dalam situasi itu, ketika diwawancarai yakin bahwa mereka pasti mati. Perintah dari komandan operasi pasukan Menpor tidak boleh menembak kecuali dalam kondisi tidak bisa menghindari musuh.
Pasukan yang tercerai berai itu masih “dihadiahi” Belanda dengan pemboman dari laut dan tembakan senapan mesin dari pesawat tempur/ Ajun Brigadir Wagiyo mengingat saat itu, sebagai jam tanda bangun pagi yaitu suara meriam dan mereka harus segera mencari perlindungan. Pesawat tempur yang terbang rendah (waktu itu Belanda masih menggunakan pesawat baling-baling) adalah gangguan lain yang memaksa pasukan Menpor bersembunyi dengan baik.

Ajun Brigadir Kartimin mengingat, pada saat itu sering keliru mengira pesawat Belanda sebagai pesawat dari TNI AU yang menerjunkan logistic. Ia menunggu makanan yang datang adalah peluru senapan mesin dan kadang-kadang roket udara ke darat.

Logistik dari TNI AU sebenarnya sering datang, namun lokasi penerjunan logistic lebih dekat ke wilayah musuh daripada di hutan.
Pasukan Menpor yang ditawan Belanda mempunyai “kesibukan” sendiri, setiap pagi mereka harus melakukan senam militer dan kadang-kadang senam tersebut dilakukan semakin mendekati garis pantai. Mereka harus bersenam sambil melakukan gaya injak-injak air.

Beberapa anggota Menpor yang terpencar sempat kepergok oleh patroli AD

Belanda dan terjadi kontak senjata. Pasukan Menpor tersebut bisa menewaskan 11 anggota pasukan Infanteri Belanda dan seorang perwira infanteri berpangkat Letnan Dua.
Setelah melakukan kontak mereka segera bersembunyi untuk menghindari kejaran pasukan yang lebih besar. Pasukan Menpor akhirnya bisa melakukan konsolidasi setelah gencatan senjata disepakati pada Bulan Mei 1962. Pasukan akhirnya dikonsolidasikan dan ditarik ke kapal perang milik TNI AL. Sebagian besar anggota Menpor yang belum sempat kontak senjata dengan Belanda merasa kecewa karena amunisi yang mereka bawa belum sempat dipergunakan, padahal mereka sudah  merasakan hantaman meriam dan roket Belanda.
Mereka juga beranggapan sangat tidak enak menjadi buruan musuh, karena pada operasi militer sebelumnya mereka selalu memburu musuh.